Morning Glory Coffee, Jl. Taman Cempaka, Bandung

Waktu itu sore hari dan hujan turun dengan deras, kami baru pulang dari rumah sepupu saya di Jalan Sumarsana. Kami berempat (saya, suami, serta che dan aero) menemukan kafe yang nyaman di Jalan Taman Cempaka (depan taman foto bdg), Morning Glory Coffee atau MG & Co. Kami pun memutuskan mampir. Dari luar, saya sudah tertarik sama eksterior kafe itu yang ke-Belanda-Belanda-an, dengan gerbang-gerbang lengkungnya yang besar. Bertempat di sebuah gedung tua, dan menghadap ke Taman Foto Bandung, saya langsung suka suasana di dalamnya.

archways

archways

Pikir saya waktu itu, selain menunjang untuk bawa anak-anak ke sini (walau kurang playground buat anak-anak) kafe ini juga enak banget buat kerja sendirian, atau hangout bareng teman.  Menurut saya pribadi sebagai penikmat kopi―walau enggak ngerti dengan segala jenis dan teknik pembuatannya―kopinya enak.

2015_0201_15460700

Saya pesan Hazelnut Creme Brulee (IDR 37,5k) yang sayang creme brulee-nya kurang gosong, sementara suami saya pesan Affogato (lupa harganya berapa), yang berupa espresso dicampur es krim vanilla. Affogatonya sungguh enaaaaakkkkkk, meski agak salah pilih juga, soalnya kok hujan-hujan makan es krim. Anak-anak saya sih tidak pesan apa-apa, mereka lebih senang berlarian ke sana-kemari mengingat tempatnya yang luas dan penempatan kursinya yang agak berjarak dan tidak terlalu sumpek (semoga saja mereka tidak mengganggu pelanggan lain).

Untungnya, saat itu lagi Persib Day―para pegawai MG & CO diwajibkan memakai baju persib dan pada malam harinya akan ada nonton bareng persib―jadi ada diskon 10 persen khusus untuk pelanggan hari itu. Yay, bagi saya. Nay, bagi suami saya yang saat itu juga pakai baju persib sehingga bisa disangka pegawai kafe tersebut XD.

persib day

pak suami yang disangka pelayan karena pakai baju persib

Hujan akhirnya reda, kami pun pulang dengan hati senang. Masing-masing sibuk dengan pemikiran sendiri.

-nat-

 

Tulisan lengkap bisa dibaca di sini.

 

MORNING GLORY COFFEE

Jln. Taman Cempaka, Bandung (buka juga di Setrasari Mall, dan di Jln. Trunojoyo)

Cozy work space: Yes

Suitable for children: Yes

Public transportation access: dilewati angkot rute Riung Bandung-Dago

Parking: off street.

Price range: (lupa dicatet)

Facilities: wifi access, smoking area, comfy sofa (belum tahu apakah ada private room atau meeting room-ny

Advertisements

Gulai Kambing di Pondok Sate Rancabolang, Bandung

1-2015

Kali ini saya mau posting soal warung yang ngejual gulai kambing yang enak di Bandung. Kalo dulu sih namanya Pondok Sate Ruhiyat, tapi sekarang kok berubah, ya namanya, jadi Pondok Sate Rasa Bandung (halah). Biasanya saya beli sate kambingnya di situ, dan dari namanya juga udah jelas, sih, justru satenya yang juara. Lengkap pula, ada sate sapi, sate kambing, sate ayam, ayam bakar, segala jeroan, dll dll. Anak sulung saya suka banget gulainya  (padahal biasanya enggak suka), tapi kata suami saya, porsinya terlalu sedikit. Maklum rw 09 alias rewog. :p

Ini penampakannya:

gule kambing

1-2014_0824_20362800

 

Yang jual ibu-ibu ramah n bageur pisan 🙂 tempatnya juga bersih. Harganya lumayan murmer di kantong.

 

Pondok Sate (Ruhiyat)

Jln. Rancabolang 23, Bandung (di samping martabak santiago)

 

Harga:

gule kambing: Rp. 18.000,00 per porsi

nasi: Rp. 3500,00 per porsi

 

Jam buka: 11.00 – 21.00

 

-nat-

 

 

 

Kopi Progo

Namanya memang “Kopi Progo,” warung kopi yang buka di jalan progo, bandung. Tapi Kopi Progo juga buka di Jalan Sumatra, Bandung. Yang di jalan Sumatra ini, tempatnya lebih enak buat nongkrong daripada yang di jalan progo sendiri, tapi terus terang, bagi saya, makanan yang di Jalan Progo-nya JAUH lebih enak. 🙂

Dan ini menu yang kami pesan waktu di Kopi Progo.

Kopi Tubruk Wamena @ Kopi Progo

Kopi Tubruk Wamena @ Kopi Progo

Risoles Beef @ Kopi Progo

Risoles Beef @ Kopi Progo

Konon, yang terkenal dari tempat ini adalah risoles isi tunanya, but i didn’t feel like eating tuna back then, so i chose the smoked beef instead.

2013-11-30 14.13.45

Sop Buntut Rica-Rica @ Kopi Progo

Pertama makan sop buntut rica-rica ini di Kopi Progo yang ada di Jalan Progo-nya, sumpahhhh enak banget! Dagingnya berlimpah, pedasnya passs… (walau nasi-nya sejumput kecil doang :p)

Sop Buntut Goreng

Sop Buntut Goreng

Harganya lupaaaaaaaa…. slipnya kebuang, euy.

Yah, lumayan ramah di kantong, laahhhhhh… Kalau nggak salah, sop buntut goreng dan sop buntut rica-rica-nya harganya @47rb sekian…

Kopinya ada macem-macem, mau diapain terserah. Kalo saya sukanya kopi tubruk dengan bubuk kopi Wamena, Papua. Nikmeeehhhhh…

-nat-

Warung Sate Sidareja “Pak Gino”

Suka kambing? Kalau saya sih dulu nggak suka kambing. Soalnya bau. Tapi sejak beberapa tahun lalu kerja di jakarta, bergaul sama teman-teman sekantor yang pencinta kambing, mau nggak mau saya jadi suka daging kambing. Kalau ada acara di kantor, pasti seringnya diajak ke rumah makan yang menu utamanya kambing (atau bebek).  Dan memang enak! Stigma soal daging kambing yang bau langsung buyar dari benak saya. Kalo kata teman saya, cara memasaknya dan jenis kambingnya yang bikin bau si daging berkurang, kalau bukan hilang sepenuhnya. Kalau “ditangani” dengan baik, alih-alih mendapatkan daging yang alot, “daging kambing” bisa terasa lembut dan manis. (Hal ini juga berlaku untuk daging bebek yang amis. Dan gara-gara kerja di tempat itu pula, saya jadi suka bebek, walau hanya yang digoreng garing)

Begitu balik ke Bandung, saya agak merindukan sate kambing yang manis dan lejat itu. Sebenarnya, saya orangnya suka “cari aman,” malas cari tempat baru. Jadi menurut rekomendasi abang saya, hidangan kambing yang enak ada di Pak Gino; kalau kata ayah saya, tempat favoritnya di RM Hadori (di belakang stasiun bandung). Atau kalau mau hidangan kambing yang tidak terlalu “old-school” coba steak kambing di kambing bakar cairo. Tapi satu-satu dulu, ya, ceritanya. Sekarang giliran Pak Gino. 🙂

Sate Pak Gino ini, awalnya ada di jalan sunda. Kata si abang, sih, di sana rame terus. Sampe-sampe susah parkir. Waktu itu saya masih belum tertarik mencobanya, karena masih belum suka kambing.

Trus, ternyata Pak Gino buka cabang di Jl. Supratman, di dekat Pusdai, di samping mini market yang namanya tidak mau saya sebut di sini. Parkirnya mudah, suasananya lebih nyaman daripada yang ada di jalan Sunda. Jadi, warung Pak Gino yang di Supratman inilah yang sering kami kunjungi kalau lagi ingin makan kambing. Biasanya, kalau lagi nunggu pesanan datang, saya mampir dulu ke Rumah Buku, yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana.

Harganya standarlah warung-warung kambing yang enak, tapi memang lebih murah daripada yang di Jakarta.

Sate Kambing Polos (1 porsi/10 tusuk Rp. 30.000,00)

Sate Kambing Polos (1 porsi/10 tusuk Rp. 30.000,00)

Gule kambing Rp. 29.000,00

Gule kambing Rp. 29.000,00

Menu Warung Sate Sidareja Pak Gino

Menu Warung Sate Sidareja Pak Gino

Oiya, kalau nggak suka kambing, di sini juga disediakan sate daging sapi dan ayam, lhoooo…

Waroeng Lotek Macan

Hari ini saya (ditemani rombongan lenong formasi kurang lengkap–Ayah-Ibu-Abang-Che-Aero tanpa suami saya) harus menyelesaikan urusan yang menghabiskan (membuang-buang, sebenarnya) waktu seharian di sebuah bank di Buah Batu, Bandung, dan kami kelaparan! Kami keluar dari bank pukul setengah 2 siang, agak terlambat untuk lunch (cieee, lunch), jadi hal pertama yang kami lakukan adalah CARI MAKAN!

Pilihan pertama kami: lotek. Buat kami, lotek adalah jajanan “paling aman” dan “mengenyangkan” selain baso kalau lagi terburu-buru melakukan aktivitas di luar rumah pada siang hari dan kelaperan (sampai kayaknya mau pingsan). Bahasa sundanya mah lotek disebut boiled vegetables with peanut sauce ;-P Selain murah meriah, lotek bisa diterima lidah siapa pun. Ada yang bilang lotek ini gado-gadonya versi sunda. Tapi kata ibu saya, lotek itu diulek, sementara gado-gado bumbunya disiram. Ada yang bilang juga kalau lotek ini sayurannya direbus, sementara gado-gado masih mentah. Tapi saya jadi bingung lagi, soalnya ada istilah “lotek asak” (lotek rebus) dan “lotek atah” (lotek mentah). Aoa pun namanya, sayuran mentah/masak dengan saus kacang ini disebut Indonesian Salad.

Aaanyywaayyyy

Berhubung ayah saya ikut, dan beliau tidak terlalu suka harus makan berdesak-desakan semeja dengan orang lain*** baso langsung dicoret dari daftar pilihan (padahal saya sudah kebayang-bayang makan ceker di Akung. Hiks!)

Singkat kata, semua orang setuju makan lotek. Tadinya mau cobain lotek kesohor Herry yang ada di jalan buah batu juga. Tapi nggak jadi, soalnya penuh (lihat ***).

Saya ingat ada lotek kesohor lain di sekitar Buah Batu, juga. Di jalan Macan tepatnya, dan namanya Waroeng Lotek Macan, since 1956. Jalan Macan ini ada di terusan lodaya, setelah lapangan softball/baseball lodaya, sebelum lampu merah burangrang. Di sebelah kiri, pokoknya. Awas kelewat. Saya nggak tahu, ada rute angkot nggak, ya, yang lewat situ? Atau bisa naik angkot gedebage-st. hall, turun di lampu merah palasari-lodaya, jalan kaki dikit deh ke jalan macan. Dari ujung Jalan Macan udah keliatan kok plang warung ini. Dan biasanya penuh pisan, kalau bawa mobil susah parkir, lah, pokoknya.

Menunya lengkap sebenarnya, nggak cuma ada lotek dan sebangsanya, tapi yang terkenal memang loteknya.

Menu Waroeng Lotek Macan

Menu Waroeng Lotek Macan

Ayah dan anak-anak saya pesan soto bandung. Kalau saya, ibu, dan abang saya pesan lotek pedas sekali, yang rasanya tidak pedas sama sekali. Sigh. Kalau kata si abang sih, lidah keluarga kami memang udah nggak beres. Loteknya enak, sih, tapi porsinya dikiiiiiittttt (lontongnya juga 3-4 potong doang, hiks). Saya nyesal kenapa nggak pesan soto bandung aja, soalnya soto bandungnya enak-pake-banget (tuh kan, sekarang ngiler lagiiii).

Lotek + lontong "pedas sekali" Rp. 13.000,00

Lotek + lontong “pedas sekali” Rp. 13.000,00 (kalau lotek + nasi Rp. 16.000,00)

Soto Bandung di Waroeng Lotek Macan (+ Nasi) Rp. 20.000,00

Soto Bandung di Waroeng Lotek Macan (+ Nasi) Rp. 20.000,00

Di sini juga ada berbagai macam kolak dan asinan, lho. Kami pun memutuskan untuk membungkus asinan bogor buat disantap di rumah. Segaaaaaaaaaarrrrrr…

Asinan untuk dibawa pulang (sebungkusnya Rp. 10.000,00) + kerupuk mie (sebungkusnya Rp. 4.000,00)

Asinan untuk dibawa pulang (sebungkusnya Rp. 10.000,00) + kerupuk mie (sebungkusnya Rp. 4.000,00)

Total pesanan kami berenam: 96rb saja, sodara-sodara. Tapi belum ditambah asinan, ya…

Lumayan murah kaaaannnnn?
-nat-

Lotek Cihapit

Yuhhuuuu… udah lama rasanya nggak ngapdet blog yang ini… Bukannya nggak pernah jajan, sihhh… tapi malas aja moto-moto karena rempong ke mana-mana bawa dua bocah. 🙂

Naaah, beberapa waktu lalu, saya sekeluarga “terdampar” di jalan Cihapit. Setelah menyelesaikan urusan kami di sana, saya yang kelaparan tanpa sengaja menemukan warung lotek ini.

20130423_120716-1

Letaknya nyempil di antara pertokoan, tepat di seberang kantor polisi Cihapit. Ada pohon gede menghalangi di depannya.

loteknya yang seuhah mantaps....

loteknya yang seuhah mantaps….

es campur

es campur

Beneran, saya nggak sengaja nemu tempat ini. Katanya warung lotek ini sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Hihi… Yah, tau sendiri di Cihapit banyak tempat jajanan, tapi berhubung lagi pengen lotek, masuklah kami kemari.

Di sana nggak hanya tersedia lotek dan sebangsanya (karedok, rujak, dll), ada juga makanan khas warung nasi, serta soto-sotoan.

Kayaknya, soto bandungnya juara, soalnya banyak banget yang mesan.

20130423_120730

Tempatnya kayak warung-warung yang nyempil gitu deh. Memanjang ke belakang. Agak ribet bawa anak-anak, apa lagi pas jam makan siang sehingga tempatnya jadi terasa sumpek. Udah gitu, pesanan saya telat datang! Huh!

Tapiiiiii… begitu nyicip loteknya, ilang semua deh gerutuan dan omelan dan kekesalan saya. Loteknya HARUS dicoba!

Nanti kapan-kapan mau coba menu lainnya, ah. Yuk ke Lotek Cihapit. 🙂

-nat-

BTW: saya lupa harga tepatnya T__T tapi kalo nggak salah, satu porsi lotek + es campur + 5 potong kue ager-ager (buat para bocah) kurang lebih 30rban.

Kopi Tiam Oey cabang Braga, Bandung

Udah lama saya penasaran pengen ke KTO. Tadinya sih pengen ke KTO yang di jalan sabang, Jakarta. Ternyata di Bandung ada juga cabangnya. Jadi meluncurlah saya ke sana, sekalian halal-bi-halal dengan geng arisan. Karena letaknya di jalan braga yang ramai (sama orang foto-foto), agak sulit menemukan tempat itu. Dan nama yang terletak di plang-nya cuma Oey doang, gak ada Kopi Tiam-nya.

FYI, Kopi Tiam artinya warung kopi, dan Oey itu adalah plesetan dari nama yang punyanya Oey Boen Than, alias Pak Bondan Winarno.  Oey di sini dibacanya “Wi”, bukan “Oi” (jadi harusnya KTW, ya? Bukan KTO. :D). CMIIW, yaaaaa…

Saya pergi sama abang saya ke sana.

Dan ini yang dia pesan…

Coklat Panas Rp.12.000,00

Si abang bukan pencinta kopi, sih, jadi pesennya coklat panas. Padahal jelas-jelas itu “warung kopi” gitu yaaa… (puter-puter bola mata)

Soto Tangkar + Nasi Rp. 33.000,00

Soto tangkarnya enak! Alih-alih pake jeroan sapi, soto tangkar di sini pake pipi sapi (demikian penjelasan mas-mas waiternya).

Kalau ini pesenan saya…

Pisang penyet cokelat-keju Rp. 19.000,00

Singkong sambal roa Rp. 11.000,00

 Sambal roa-nya, T.O.P!

Daaaannn… ini menu pilihan yang saya rekomendasikan

Ijs Kopi Soesoe Indotjina alias vietnam ice coffee drip with milk Rp. 16.000,00

Kopinya pekat dan kental, takaran susunya pas! Mantapppppphhhh…

Teman-teman arisan saya pesan Sup Ikan Sabang yang katanya “Seger…!”

Yah, kalau ke sana lagi, saya pengen nyicip Loempia Oedang Goenoengsari-nya. Kelihatannya menggiurkan…

Oiya, minuman milo dinosaurusnya juga enyaaaakkk…

-nat-